Tampilkan postingan dengan label kultum ramadan santri putra 1440h. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kultum ramadan santri putra 1440h. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2019

Dosa yang Tidak Terampuni

Dosa yang Tidak Terampuni

~ Oleh : Wahyu Miftakhul Huda ~

Gambar : Pixabay


إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا  ٤٨
Artinya :
Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain dari ( syirik ) itu bagi siapa yang di kehendaki-Nya. ( Q.S Annisa : 48 )
Pengertian kalimat “dan Dia mengampuni segala dosa selain dari syirik “, artinya walaupun terpaksa takut di bawa mati lantaran kurang banyak istighfarnya ketika masih ada umur, maka dosa selain syirik itu masih bisa di ampuni oleh Alloh. Kalau dia sudah masuk di dalam neraka akan Alloh keluarkan dari neraka itu. Akan tetapi kalau dosa kemusyrikan sampai di bawa mati tidak di ampuni oleh Alloh, bahkan dimintakan ampunan kepada Alloh dari keluarganya yang masih hidup pun tidak boleh.
Marilah kita amati, mengapa pada zaman sekarang banyak sekali orang yang terjerumus dalam kesesatan ? ada yang keluar dari agama Islam, ada yang menyekutukan Alloh dengan makhluk lain? Hal ini terjadi karena mereka (manusia) lebih mementingkan perihal duniawi saja seperti keluar dari agama Islam hanya untuk menikahi pasangannya yang berbeda agama, diiming-imingi harta dunia dengan keyakinannya yang digadaikan. Kemudian menyekutukan Alloh dengan yang makhluk-Nya seperti jin, batu, keris, pohon, dan benda keramat lainnya.
Sekarang bagaimana dengan permasalahan tersebut? Pahamilah kenikmatan dunia tidak ada apa-apanya dengan kenikmatan akhirat. Jika diibaratkan seperti jarum jahit yang dicelupkan dalam air yang berada di samudra luas. Orang-orang yang terjerumus dalam kesesatan sesungguhnya adalah orang yang kufur nikmat.
Alloh menguji kita itu dengan berbagai macam versi, di ataranya adalah nikmat sehat, nikmat kecukupan, nikmat kekurangan, nikmat perasaan. Di antara nikmat-nikmat tersebut manakah yang paling banyak membuat orang kufur nikmat sehingga mendorong seseorang untuk menyekutukan Alloh? Yaitu nikmat kekurangan. Kita boleh merasa bahwa rizki kita kurang , harta kita kurang, akan tetapi jangan sampai iman kita juga kurang. Dengan demikian semua kekurangan yang kita rasakan akan berbalik menjadi rasa syukur apabila kekurangan itu dilandasi dengan iman yang kuat, karena jika kita sedang kekurangan belum tentu semuanya serba kekurangan, kita sedang susah tetapi jasmani dan rohani kita sehat, semua keluarga bahagia juga patut kita syukuri.
Kesimpulannya, apapun kenikmatan yang kita rasakan pastikanlah selalu kita landasi dengan iman dalam diri kita masing-masing agar kita tidak termasuk dalam golongan manusia yang kufur nikmat.
Demikian sedikit ilmu yang bisa saya bagi, bila terdapat banyak kesalahan mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Fastabiqul Khoirot di Bulan Ramadhan

Fastabiqul Khoirot di Bulan Ramadhan

~ Oleh : Restu Rizal Nasrul Khaq ~

Gambar : Pixabay

Kewajiban Berpuasa
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita sehingga kita di berikan nikmat sehat untuk bisa menunaikan ibadah saum di bulan suci Ramadhan ini. Sholawat serta salam kita curahkan kepada Nabi Agung Muhammad SAW dan para sahabatnya yang selama ini menjadi suri tauladan kita sebagai umat Islam.
Sebagai umat Islam kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa selama 30 hari penuh di bulan suci Ramadhan ini. Sebagaimana firman Allah SWT yang terkandung dalam surat Al-Baqarah ayat 183 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
Sangat jelas dari ayat tersebut di tujukan kepada kita sebagai umat Islam di wajibkan untuk melakukan ibadah puasa ini agar kita bisa menjadi orang-orang yang bertaqwa.
Karena dengan ketaqwaan itulah yang insyaallah akan menuntun kita menuju surganya Allah SWT.

Amalan Paling Besar Pahalanya di Bulan Ramadhan
Selain melaksanakan ibadah puasa kita sebagai orang yang beriman juga di anjurkan atau di perintahkan untuk melaksanakan amalan-amalan shalih lainya antara lain :
1.    Bersedekah.
2.    Sholat Malam
3.    Sholat Tarawih
4.    Tilawatil Al-Qur’an
5.    Perbanyak Sholawat
Dan amalan yang paling besar pahalanya di antara amalan-amalan lainya adalah Tilawatil Al-Qur’anatau Tadarus Al-Qur’an. Karena satu hurufnya dalam Al-Qur’an mengandung 10 kali lipat kebaikan. Hal itu merujuk kepada hadits berikut ini :
عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ».
“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)
Maka dari itu, semakin banyak kita membaca Al-Qur’an tentunya akan semakin banyak pahala yang akan kita dapatkan. Insyaallah.
Namun sayangnya masih banyak di antara kita yang beralasan untuk tidak membaca Al-Qur’an antara lain ada yang beralasan sibuk dengan pekerjaanya, sibuk ngurusin tugas, atau mungkin sibuk mengurus anak-anak. Sungguh sangat disayangkan.
Padahal di akhirat nanti kita akan dimintai pertanggungjawaban atas hal tersebut. Saat di Yaumul Hisab nanti , waktu amalan kita di hitung kita akan ditanya oleh Allah SWT tentang hal mengamalkan Al-Qur’an. Tentunya kita tidak akan bisa beralasan lagi di depan sang raja yang maha merajai lagi maha mengetahui. Allah sudah datangkan kepada kita orang yang Allah hilangkan penglihatanya tetapi semangat dalam membaca Al-Qur’an, semangat dalam mengamalkanya. Sedangkan kita sebagai orang yang di beri fisik normal masih banyak beralasan untuk tidak membaca Al-Qur’an? Naudzubillah, semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang tersebut.

Puasa yang Sia-Sia
Adapun yang hal-hal yang harus ditinggalkan di bulan Ramadhan antara lain :
1.    Perilaku tercela
2.    Berkata kotor
3.    Bermaksiat
4.    Berdusta
Sejatinya puasa adalah sebagai perisai kita dari perbuatan-perbuatan tercela.
Nabi Muhammad SAW sudah memperingati kita dengan peringatan keras :
Rasulullah bersabda :
من لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Artinya : “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”
Apa yang dimaksud dengan az-zuur? Imam As-Suyuthi rahimahullah mengatakan bahwa az-zuuradalah berkata dusta dan menfitnah (buhtan). Sedangkan mengamalkannya berarti melakukan perbuatan keji yang merupakan konsekuensinya yang telah Allah larang.
Maka dari itu marilah kita Fastabiqul Khoirot di bulan yang penuh berkah ini, karena belum tentu kita bisa menjumpai bulan suci Ramadhan ini di tahun-tahun berikutnya.
Dan semoga kita adalah termasuk orang-orang yang mendapatkan berkahnya dan bisa istiqomah dalam ibadah di tahun-tahun berikutnya sehingga kita bisa menggapai derajat taqwa untuk bisa menuju surgaNya.

Istiqomah dalam Hijrah

Istiqomah dalam Hijrah

~ Oleh : Rizki Prayoga Dewantoro ~

Gambar : Pixabay

Para jamaah yang dirahmati ALLAH...
Pada hari ini kita telah memasuki hari ke ... pada bulan suci Ramadhan ini, nah pertanyaannya amalan apa saja yang sudah kita lakukan.
Sudahkah kita menjalankan amalan Sholat Tahajjud..?
Sudahkah kita menjalankan amalan Sholat Dhuha..?
Atau yang lebih umumnya sudahkah kita menjalankan amalan tadarus..?
Oleh karena itu saya ingin mengajak para jamaah sekalian, selagi kita belum terlambat dan memang sebenarnya tidak ada kata terlambat untuk beribadah, marilah kita tingkatkan lagi kualitas beserta kuantitas ibadah kita ini.
Para jamaah yang dirahmati ALLAH...
Ada beberapa fenomena yang kerap kita jumpai di bulan Ramadhan ini, dari sekian banyak salah satunya adalah fenomena hijrah, pasti tidak asing bukan dengan kata – kata hijrah?
Hijrah pada umumnya adalah perpindahan (bermacam tipenya)
Hijrah pertama kali dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, dimana Rosululloh memerintahkan umat Islam di Mekkah agar segera berhijrah melakukan perjalanan ke kota Madinah, karna pada kala itu umat Islam di Mekkah mendapat perlakuan yang tidak baik dari penduduk kota Madinah. Rosululloh pun merasa khawatir akan umatnya, maka beliau pun memberi perintah kepada umat Islam untuk hijrah ke kota Madinah.
Setelah umatnya sudah sampai di Madinah, barulah setelah itu Nabi Muhammad beserta para sahabat lainnya menyusul ke kota Madinah, dan mereka mendapat sambutan yang meriah dari penduduk kota Madinah.
Akan tetapi bukan berarti tujuan umat Islam hijrah ke Madinah untuk hidup enak, justru di Madinah Rosululloh meningkatkan kekuatan militer Islam (salah satunya), hingga tiba waktunya pada tanggal 10 Ramadhan tahun 8 Hijriyah terjadi peristiwa Fathu Makkah, 10.000 pasukan Islam di bawah pimpinan Khalid bin Walid melakukan pembebasan kota Makkah tanpa adanya pertumpahan darah, yang artinya penduduk Makkah menyerah kepada pasukan Islam.
Para jamaah yang dirahmati ALLAH..
Berikut adalah sekilas dari contoh hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Berbeda dengan hijrah yang banyak dilakukan orang jaman sekarang hijrahnya yaitu berupa sikap atau hijrah keimanan, yang tadinya tidak menjaga auratnya menjadi orang yang menjaga auratnya, itu contoh kecilnya ya. Mungkin kita pikir hijrah itu sulit, tetapi sebenarnya hijrah itu sendiri mudah, yang sulit adalah bagaimana kita ber istiqomah dalam hijrah
Maka saya akan menyampaikan setidaknya 3 hal yang menyebabkan orang istiqomah :
Yang pertama adalah AQIDAH
Yang kedua adalah UKHUWAH
Yang ketiga adalah SYARIAH
Aqidah yang pertama, Aqidah adalah jawaban dari pertanyaan why, dan pertanyaan why ini apabila dijawab akan dapat memberikan alasan yang kuat hingga memberikan seseorang kekuatan dalam jalan yang ia pilih, misal : kenapa kita diciptakan?, kenapa kita harus beribadah? Kenapa kita hijrah?, nah di sinilah timbul jawaban, timbul keyakinan bahwa kita melakukan semua ini karena ALLAH , karena LILLAH.
Yang kedua adalah Ukhuwah, adalah teman – teman yang membersamai kita. Teman – teman yang bersama kita dalam kebaikan. Karna tiap hal mempunyai pola, kebaikan mempunyai pola kejahatan pun punya pola. Pola kejahatan adalah sendiri, misal kita lihat orang yang berpacaran pasti mereka mencari tempat yang sepi, tempat yang jarang dilalui orang lain. Maka pola dari kebaikan adalah sebaliknya yaitu bersama, bersama dengan teman – teman hijrah, komunitas hijrah, berkumpul dengan orang - orang shaleh, mengikuti majelis dan lain sebagainya
Yang pertama tadi Aqidah, yang kedua Ukhuwah dan yang ketiga adalah Syariah, adalah peraturan yang memaksa seseorang agar tidak melakukan maksiat, misalkan di suatu lembaga pendidikan Islam yang menetapkan peraturan bagi para siswa beserta pegawainya agar berpakaian islami. Bayangkan jika di negara kita ini diberlakukan aturan – aturan yang berdasarkan ajaran Islam, betapa banyaknya kemaksiatan yang tertunda.
Nah inilah yang pernah terjadi pada masa Rosululloh SAW dan khalifah – khalifah setelahnya dari mulai Aqidah, juga Ukhuwah dan dilengkapi oleh Syariah.

Generasi Milenial Dambaan Umat

Generasi Milenial Dambaan Umat

~ Oleh : Moh. Fajar Annur Ridwan ~

Gambar : Pixabay

Abad ke-21 ini tentu sangat dirasakan dengan maraknya perkembangan teknologi yang semakin memudahkan pekerjaan manusia dalam beraktivitas. Mengingat imbas dari teknologi ini juga merambah pada kalangan milenial. Tentu sudah tak asing lagi bukan, jika mendengar kata milenial atau ‘kids zaman now.
Sudah dua tahun terakhir ini bahkan, para remaja mendapat gelar baru dengan sebutan-sebutan yang mengarahkan kepada perkembangan teknologi akhir zaman. Sebutan lainnya yaitu generasi Z.
Remaja masa kini menorehkan tinta hitam yang menambah buram potret generasi muda, Remaja yang sedianya menjadi harapan dan dambaan umat untuk menuju kebangkitan islam justru banyak disibukkan dengan trend-trend baru yang bahkan jauh dari etika musim sebenarnya. Budaya-budaya ketenaran, viral yang tak habis masanya selalu datang bergantian. Nah sekarang mari melihat kembali catatan-catatan sejarah, dimana Islam selalu mampu melahirkan generasi-generasi hebat dambaan umat, yang walau diusia belia telah mampu menoreh tinta emas dalam sejarah. Seperti mengharumkan nama Islam dan membuat Islam memenangkan peradaban. Merekalah yang dengan ribuan pemuda lainnya  memperjuangkan dan mendakwahkan Islam dengan dorongan iman.
Mari kembali mengulas kisah Usamah bin Zaid yang diangkat oleh Rasulullah menjadi komandan pasukan kaum muslimin dalam penaklukan Syam padahal baru berusia 18 tahun. Atau kisah Imam Syafi’i yang telah hafal Al-Qur’an diusia 9 tahun serta Ibnu Sina yang telah hafal Al-Quran diusia 5 tahun bahkan kemudian mampu menjadi bapak kedokteran dunia. Tentu kita belum lupa kisah heroik Muhammad Al Fatih Sang Penakluk Konstatinopel dan mampu menjadi Sultan diusia muda. Coba sejenak kita renungkan, apa bedanya kita yang ngakunya kids jaman now dengan generasi muda Islam hingga membuat ketimpangan yang sungguh nyata antara kepribadian kita dan kepribadian mereka para pejuang Islam. Bukankah kita juga telah dipuji pemilik kehidupan sebagai umat terbaik?
Kids zaman now para muslim itu dimana senantiasa memanfaatkan teknologi untuk semakin menambah rasa keimanan dan semakin mendekat pada sang Rabb. Menjadi semakin rajin mengaji karena Al-qur’an elektronik sudah dengan mudahnya untuk diakses. Berlomba-lomba dalam mengkhatamkan dan menghafal Al-qur’an  salah satunya. Barangkali, sudah tidak zaman jika generasi muda hura-hura. sudah waktunya yang muda semangat cari pahala. Yuk buktikan Kids Jaman Now bisa kebanggaan untuk muslim lainnya, dan mampu membiasakan adab dan etika seorang muslim sejatinya. Wallahu’alam...

Fasilitas Akhirat bagi Orang yang Berpuasa

 Fasilitas Akhirat bagi Orang yang Berpuasa

~ Oleh : Abdul Muhaimin ~

Gambar : Pixabay

Demi menjaga kualitas dan kontinyuitas amal kita dalam bulan Ramadhan ini, marilah kembali mengingat janji Allah yang dijanjikan kepada kita, khususnya yang berkaitan dengan ibadah puasa yang kita jalani ini. Dengan menghayati apa saja yang akan diberikan Allah SWT kepada kita, maka insya Allah puasa kita akan terasa ringan, sebagaimana kitapun akan lebih bersemangat dalam menjalankan amal kebaikan lainnya di dalam Ramadhan. Mari kita lihat kembali bagaimana sesungguhnya fasilitas yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada mereka yang berpuasa dengan baik di bulan Ramadhan ini.
Pertama : Ampunan di sisi Allah SWT
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang kita sama-sama sering mendengarnya disampaikan paramuballigh dalam hari-hari ini. Hadits yang singkat tetapi mempunyai nilai motivasi yang kuat bagi kita : “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan penuh pengharapan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu “ (HR Bukhori Muslim).
Siapa yang tidak bergembira mendapatkan ampunan dari setiap dosa ? Karena sungguh setiap kita tidaklah berjalan di atas muka bumi ini kecuali dengan memanggul dosa yang terus bertambah setiap harinya, tanpa kita sadari. Ibaratnya tahanan, maka puasa akan menjadikan kita mendapatkan remisi pembebasan dari neraka. Amin allahumma amiin. Tentunya dengan dua syarat yang telah disebutkan begitu jelas dalam hadits tersebut, yaitu : dengan penuh keimanan dan pengharapan. Berpuasa dengan sepenuh keikhlasan dan keyakinan, serta mengharap pahala yang agung di sisi Allah SWT, karena itulah ia senantiasa menjaga kualitas puasanya dari hari ke hari. Menjaganya agar tidak terkotori dengan noda-noda yang akan mengurangi nilai pahalanya.
Kedua : Bau mulut yang Wangi
Fasilitas kedua yang diberikan Allah SWT kepada orang yang berpuasa adalah, bau mulut kita menjadi begitu semerbak mewangi di akhirat nanti. Rasulullah SAW bersabda :
“Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi disisi Allah subhanahu wa ta’ala daripada wangi minyak kesturi” (HR Bukhori)
Jamaah sekalian rahimakumullah …
Mungkin sebagian dari kita bertanya-tanya mengapa hal semacam ini menjadi kekhususan tersendiri di sisi Allah SWT. Mengapa persoalan bau mulut sampai diungkit dalam janji Allah SWT kepada hamba-Nya yang berpuasa ?. Marilah kita lihat janji ini sebagai isyarat bahwa apapun yang terkait orang yang berpuasa sungguh akan dihargai oleh Allah SWT, bahkan sekalipun yang terkait dengan bau mulut. Logika sederhananya adalah, jika bau mulut saja sudah begitu diperhatikan dan dihargai, maka bagaimana dengan hal-hal lain seputar orang berpuasa? Keringatnya dalam menahan panas, perjuangannya menahan lapar, tentulah ini semua juga akan berujung kebaikan demi kebaikan di akhirat nanti. Amin allahumma amiin …
Jamaah sekalian rahimakumullah …
Ketiga : Mendapatkan Syafaat dengan Puasanya
Hal ketiga yang akan didapatkan oleh orang berpuasa di akhirat nanti adalah syafaat atau pembelaan dari amal puasanya. Sebagaimana jelas disebutkan Rasulullah SAW dalam haditsnya, yang artinya: “Puasa dan al-Qur’an akan memberi syafa’at kepada seorang hamba pada Hari Kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Rabbku, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka izinkan aku memberi syafa’at kepadanya.’ Al-Qur`an berkata, ‘Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka izinkan aku memberi syafa’at kepadanya”. (HR Ahmad)
Subhanallah .. puasa dan bacaan Al-Quran akan berubah menjadi pembela-pembela kita di akhirat nanti. Memperjuangkan kita dengan memberikan syafaat agar kita terhindar dari fitnah dan siksa perhitungan akhirat. Karena bisa jadi ada amal-amal kebaikan yang belum sempurna tertunaikan, atau dosa yang belum sepenuh terlebur, maka syafaat senantiasa masih kita nanti-nantikan, dan ternyata salah satunya bisa berasal dari amal puasa kita.
Keempat: Pintu Surga khusus “Arroyan” bagi orang yang berpuasa
Dalam sebuah hadits yang panjang Rasulullah SAW memberitahukan kepada kita kemuliaan lain dari orang yang berpuasa , beliau menyebutkan dengan lisannya yang mulia :
“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka, ‘Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut.”(HR Bukhori Muslim)
Jelas sekali bahwa ibadah puasa mempunyai kedudukan tersendiri yang begitu mulia, hingga bagi mereka yang gemar berpuasa dan sukses dalam puasa Ramadhannya mendapatkan pintu khusus yang disebut dengan Arroyan. Tentunya kita semua berharap bisa memasuki pintu surga, dan bisa jadi insya Allah melalui pintu Arroyan yang dijanjikan kepada ahlu shoum …. Amiin allahumma amiin …
Jamaah sekalian rahimakumullah
Kelima : Kegembiraan Bertemu Allah SWT.
“Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan yaitu kegembiraan ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya”. (HR Bukhori)
Kegembiraan di kampung akhirat berikutnya adalah kesempatan berjumpa dengan Allah SWT. Sungguh sebenarnya inilah puncak dari kebahagiaan dan janji Allah kepada orang yang berpuasa, yaitu mendapatkan kemuliaan tersendiri bertemu dengan Allah azza wa jalla. Amal puasa kita ternyata bisa menjadi tiket tersendiri untuk mendapatkan impian setiap mukmin sejati ini.
Akhirnya, tiada kata lagi setelah ini kecuali marilah bersama kita lanjutkan program Ramadhan dan ibadah puasa kita dengan terus menjaga semangat dan kekhusyukannya. Jangan ada lagi semangat yang mengendur di tengah Ramadhan, apalagi lalai dalam mengisi Ramadhan dengan kebaikan dan menyibukkan diri dengan persiapan mudik dan lebaran. Mari kita tuntaskan Ramadhan dengan sepenuh kesungguhan dan harapan akan janji-janji Allah sebagaimana telah disebutkan. Semoga Allah SWT memudahkan. (Syamsuddin, 2011)

Patience or Gratitude?

Patience or Gratitude?

~ Oleh : Rhaka Surya Hutama ~

Gambar : Pixabay

Kata apa yang kita pakai sebagai perwujudan sikap, ketika kita mendapatkan pemberian dari Allah Swt. Mungkin, dengan sikap sabar atau dengan rasa syukur. Disaat kita duduk termenung memikirkan usaha yang gagal atau lamaran yang ditolak, dan memikirkan cara apa lagi yang harus dilakukan agar berhasil, dan tak lama kemudian datang sahabat kita dan memperhatikan, dengan ucapannya dia mengatakan, “Yang sabar ya ini mungkin ujian dari Allah”, sembari menepuk pundakmu dengan tangan kanannya. Dengan kata sabar mengartikan kita harus tahan menghadapi permasalahan itu, dan segera lekas untuk beranjak dari permasalahan itu, dan melanjutkan usaha kita.
“Hari ini cuma dapet segini”, kata Ayah yang kemudian memberikan hasil upah kerjanya seharian kepada Ibu, “Alhamdulillah, bersyukur kita masih bisa dapet rezeki” kata Ibu yang mulai memijat pundak Ayah dengan kedua tangannya. Kata syukur dapat kita pakai ketika kita telah mendapatkan sesuatu atas pemberian Allah SWT atau setelah kita terlepas dari permasalahan. Tapi kedua kata ini memiliki perbedaan yang tipis.
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي وَلَمْ تَعْرِفْهُ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى
Artinya : “Sesungguhnya sabar itu pada pertempuran yang pertama”. Diriwayatkan oleh  Imam Ahmad, Imam Hadits yang Enam, dari Anas bin Malik.
Sikap sabar kita bisa menjadi pintu awal terbukanya kebaikan yang lain, sesuai dengan hadits di atas bahwa sabar adalah pertempuran yang pertama, jika kita berhasil lolos dari pertempuran itu maka kita akan dapat rasa syukur karena masih bisa menerima dan tahan akan ujian yang datang.

            Barangkali kita memaknai kata sabar sebagai wujud kekuatan iman kita, yang tahan terhadap cobaan, dan percaya bahwa Allah SWT. memberikan ujian sesuai dengan kemampuan umatnya. atau kita bersyukur dari pemberian yang diberikan kepada Allah SWT. dan yakin bahwa Allah SWT. akan memberikan nikmat yang lebih kepada umatnya.

Allah SWT. berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ`
Artinya : Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".  Q.S Ibrahim ayat 7
            Sebenarnya manakah hal yang lebih baik perlu kita lakukan untuk menjadi umat yang takwa, Apakah kita harus bersabar atau apakah kita harus bersyukur?”. Dan pemaknaan arti dari kedua kata ini memiliki tujuan agar umat semakin paham atas kebesaran, kita tidak semena-mena menggunakan kata sabar dan syukur hanya sebagai arti dari lisan saja, tapi arti yang kita yakini dalam hati kepada Allah SWT.
Semua hal di bumi ini tidak tiba-tiba tercipta dengan sendirinya tanpa ada kehendak dari yang maha besar karena Allah maha besar yang sempurna dalam pembentukan bumi dan alam semesta, dan takdir yang telah dituliskan kepada umat manusia sebelum dia dilahirkan. Semua itu sudah direncanakan sebelumnya terlahir.

Pemaknaan dari kata “Sabar”

            Pada bulan Ramadan umat Islam melakukan puasa. Dalam ibadah puasa terdapat unsur kesabaran menahan rasa lapar, haus, dan meninggalkan syahwat. Hal ini ditunjukkan oleh firman AllahAzza wa Jalla dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (hadits qudsi, yang artinya), ‘Dia meninggalkan syahwatnya karena-Ku. (Diringkas dari Fat-hul Bâri (IV/107-108)
Kemudian Rasulullah  bersabda, “Dengan berpuasa, tidak ada yang menyamainya”.
Karena dengan bersabar berarti menjauhkan diri dari hasrat dan nafsu, rasa amarah pada diri dan hal-hal buruk yang juga menjauhkan diri makan, minum, dan bersenggama. Sangat besar nilai dari sebuah kesabaran dan prioritas dari kesabaran itu sendiri.
Dalam sebuah surat Allah Swt. berfirman:
إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ
Artinya : Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang". (Q.S Al-Mu’minun ayat 11)
Allah Swt. juga memberikan kebahagiaan kepada umat yang senantiasa menahan kesabarannya.
Terlebih lagi kesabaran terkutip di dalam Al-Qur’an sekitar pada 90 tempat dan ini membuktikan bahwa kesabaran memiliki prioritas lebih dari rasa syukur. Dan jika membandingkan keduanya dari sebuah hadits, bahwa kesabaran memiliki jumlah yang lebih besar dari rasa syukur, karena banyak hadits yang menyebutkan tentang itu di dalam semua bab hadits.
Pemaknaan kata Syukur

Allah Swt. berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ`
Artinya : Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".  Q.S Ibrahim ayat 7
Dari sikap rasa syukur kita yang kita lakukan, Allah Swt memberikan sesuatu yang jelas yang berupa nikmat, berbeda dengan kesabaran Allah Swt menjelaskan secara umum atau arti dari pemberian dari sikap sabar adalah pemberian lebih besar daripada kenikmatan yang berarti secara khusus.
Ibnu Al Jauzi, mengatakan tiga hal yang berkaitan dengan kesabaran dan rasa syukur :
Pertama,  kesabaran lebih  baik daripada, rasa syukur. Kedua, rasa syukur lebih baik daripada kesabaran. Ketiga, Keduanya berarti sama.
Menurut beliau, walaupun kesabaran lebih baik daripada rasa syukur dan juga sebaliknya tapi tetap saja, menurut beliau semuanya tetap bernilai sama. Walaupun kesabaran lebih luas penempatannya
dan pemaknaannya tapi hal itu juga sesuai dengan yang akan didapat dari sebuah nilai kesabaran.
Umar bin Khatab R.a berkata, “Jika kesabaran dan rasa syukur menjadi bentuk seperti unta, maka aku tidak peduli, dimana aku harus menungganginya”.
Kesabaran bisa dimana saja secara universal, entah itu sabar menahan cobaan secara lahir maupun batin. Dimanapun tempat yang disinggahi, kapanpun waktu yang berjalan, sikap sabar selalu ditanamkan di dalam diri. Karena Allah Swt senantiasa memperhatikan umatnya dimanapun kapanpun, dan tidak ada yang bisa sembunyi dari penglihatan Allah Swt.
Contoh lain pada sebuah hadits berikut ini
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah  bersabda:
Barangsiapa yang makan dengan rasa syukur, sama tempatnya dengan orang yang berpuasa dengan sabar”
[al-Tirmidhi 2486, Hasan. And Ibn Khuzaimah declared it sahih in his collection (1898), as did Ibn Hibban (952) and al-Haakim (4/136). And al-Dhahabi agreed with that. It is also recorded in Ibn Maajah 1764, hasan. And Al-Albaani declared it sahih in al-Silsilah al-Saheehah 2/258]
Hadits di atas juga menunjukkan bahwa kesabaran dan rasa syukur memiliki derajat yang sama walaupun proses penerapannya berbeda, karena keduanya memiliki arti untuk takwa kepada Allah Swt. tanpa ada perasaan penolakan.
            Kedua arti kata sabar dan syukur menjadi dasar akan sikap yang akan dilakukan, tidak bermaksud untuk membandingkan keduanya mana yang lebih dan mana yang tidak, dan mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu. Syukur dan sabar adalah sama, tidak ada yang beda, ditujukan kepada ¬Rabb penguasa alam semesta.  Umat Islam hanya harus berusaha untuk menjadi hamba yang senantiasa bersabar dalam menghadapi sesuatu dan dan bersyukur dari apa yang didapat.
Semoga kita menjadi umat yang selalu bersabar dan bersyukur. 

7 Keutamaan Malam Lailatul Qadar

7 Keutamaan Malam Lailatul Qadar

~ Oleh : Andriyan ~

Gambar : Pixabay

Setiap muslim pasti menginginkan malam penuh kemuliaan, Lailatul Qadar. Malam ini hanya dijumpai setahun sekali. Orang yang beribadah sepanjang tahun tentu lebih mudah mendapatkan kemuliaan malam tersebut karena ibadahnya rutin dibanding dengan orang yang beribadah jarang-jarang.
1.    Lailatul Qadar adalah waktu diturunkannya Al Qur’an

Ibnu ‘Abbas dan selainnya mengatakan, “Allah menurunkan Al Qur’an secara utuh sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah yang ada di langit dunia. Kemudian Allah menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tersebut secara terpisah sesuai dengan kejadian-kejadian yang terjadi selama 23 tahun.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 403). Ini sudah menunjukkan keistimewaan Lailatul Qadar.
2.    Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan
Allah Ta’ala berfirman,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadar: 3).

An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 341). Mujahid, Qotadah dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar. (Zaadul Masiir, 9: 191). Ini sungguh keutamaan Lailatul Qadar yang luar biasa.
3.    Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhon: 3).

Malam penuh berkah ini adalah malam ‘lailatul qadar’ dan ini sudah menunjukkan keistimewaan malam tersebut, apalagi dirinci dengan poin-poin selanjutnya.
4.    Malaikat dan juga Ar Ruuh -yaitu malaikat Jibril- turun pada Lailatul Qadar.
Keistimewaan Lailatul Qadar ditandai pula dengan turunnya malaikat. Allah Ta’ala berfirman,
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا
“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril” (QS. Al Qadar: 4)

Banyak malaikat yang akan turun pada Lailatul Qadar karena banyaknya barokah (berkah) pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat. Sebagaimana malaikat turun ketika ada yang membacakan Al Qur’an, mereka akan mengitari orang-orang yang berada dalam majelis dzikir -yaitu majelis ilmu-. Dan malaikat akan meletakkan sayap-sayap mereka pada penuntut ilmu karena malaikat sangat mengagungkan mereka. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 407)
Malaikat Jibril disebut “Ar Ruuh” dan dispesialkan dalam ayat karena menunjukkan kemuliaan (keutamaan) malaikat tersebut.
5.    Lailatul Qadar disifati dengan ‘salaam’
Yang dimaksud ‘salaam’ dalam ayat,
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر
“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al Qadr: 5)

Yaitu malam tersebut penuh keselamatan di mana setan tidak dapat berbuat apa-apa di malam tersebut baik berbuat jelek atau mengganggu yang lain. Demikianlah kata Mujahid (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 407). Juga dapat berarti bahwa malam tersebut, banyak yang selamat dari hukuman dan siksa karena mereka melakukan ketaatan pada Allah (pada malam tersebut). Sungguh hal ini menunjukkan keutamaan luar biasa dari Lailatul Qadar.
6.    Lailatul Qadar adalah malam dicatatnya takdir tahunan
Allah Ta’ala berfirman,
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (QS. Ad Dukhan: 4).
Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya (12: 334-335) menerangkan bahwa pada Lailatul Qadar akan dirinci di Lauhul Mahfuzh mengenai penulisan takdir dalam setahun, juga akan dicatat ajal dan rizki. Dan juga akan dicatat segala sesuatu hingga akhir dalam setahun. Demikian diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Abu Malik, Mujahid, Adh Dhohak dan ulama salaf lainnya.
Namun perlu dicatat -sebagaimana keterangan dari Imam Nawawi rahimahullah­ dalam Syarh Muslim (8: 57)– bahwa catatan takdir tahunan tersebut tentu saja didahului oleh ilmu dan penulisan Allah. Takdir ini nantinya akan ditampakkan pada malikat dan ia akan mengetahui yang akan terjadi, lalu ia akan melakukan tugas yang diperintahkan untuknya.
7.    Dosa setiap orang yang menghidupkan malam ‘Lailatul Qadar’ akan diampuni oleh Allah
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)
Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan bahwa yang dimaksud ‘iimaanan’ (karena iman) adalah membenarkan janji Allah yaitu pahala yang diberikan (bagi orang yang menghidupkan malam tersebut). Sedangkan ‘ihtisaaban’ bermakna mengharap pahala (dari sisi Allah), bukan karena mengharap lainnya yaitu contohnya berbuat riya’. (Lihat Fathul Bari, 4: 251)[1]
Ya Allah, mudahkanlah kami meraih keistimewaan Lailatul Qadar dengan bisa mengisi hari-hari terakhir kami di bulan Ramadhan dengan amalan sholih.

Bercanda dan Tertawa Tidak Boleh?

Bercanda dan Tertawa Tidak Boleh?

~ Oleh : Elvani Dandi Rizki Pratama ~

Gambar : Pixabay

Apakah Anda termasuk orang yang suka bercanda? Ataukah Anda adalah orang yang sangat serius dan tidak suka bercanda? Apakah Anda termasuk orang yang banyak tertawa? Ataukah Anda termasuk orang yang tidak sering tertawa?
Manusia diciptakan oleh Allah dengan berbagai watak dan perilaku. Kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya orang yang memiliki watak demikian. Karena tertawa adalah fitrah manusia, yang tidak diberikan kepada hewan. Apakah pembaca pernah mendapatkan hewan yang tertawa? Jujur saja penulis sendiri belum pernah mendapatkannya. Mungkin, kalau pun ada itu hanya terjadi pada momen-momen tertentu dan sangat jarang sekali.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan beberapa nasihat kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, di antara nasihat tersebut adalah perkataan beliau:
 )) وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ, فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ.((
Janganlah banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati.”
Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah tertawa? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tertawa. Banyak hadits yang menunjukkan hal tersebut, di antaranya adalah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dalam hadits qudsi yang panjang, Allah Ta’ala berkata kepada anak adam:
Anak Adam itu pun berkata:
 )) يَا رَبِّ أَتَسْتَهْزِئُ مِنِّيْ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ؟ ((
Wahai Rabb-ku! Apakah Engkau mengejekku, sedangkan Engkau adalah Rabb alam semesta?
Kemudian Ibnu Mas’ud pun tertawa dan berkata, “Mengapa kalian tidak bertanya kepadaku, mengapa aku tertawa?” Murid-murid Ibnu Mas’ud pun bertanya, “Mengapa engkau tertawa?” Beliau menjawab, “Seperti inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa. Para sahabat pun bertanya kepada Rasulullah, ‘Mengapa engkau tertawa, ya Rasulullah?’ Beliau pun menjawab:
 )) مِنْ ضِحْكِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حِيْنَ قَالَ أَتَسْتَهْزِئُ مِنِّيْ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ؟ فَيَقُوْلُ إِنِّيْ لاَ أَسْتَهْزِئُ مِنْكَ وَلَكِنِّيْ عَلَى مَا أَشَاءُ قَادِرٌ.((
Karena tawanya Rabb alam semesta ketika dia (anak adam) berkata: Apakah Engkau mengejekku sedangkan Engkau adalah Rabb alam semesta?’ Kemudian Allah berkata, ‘Sesungguhnya Aku tidak mengejekmu, tetapi semua yang Aku inginkan Aku mampu.’.
Sesuatu yang berlebih-lebihan, kebanyakan akan membawa dampak buruk. Sama halnya dengan bercanda dan tertawa. Apabila terlalu sering bercanda dan tertawa, maka akan mengakibatkan banyak keburukan.
Diriwayatkan dari Al-Hasan radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Seorang nenek tua mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nenek itu pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Berdoalah kepada Allah agar Dia memasukkanku ke dalam surga!’ Beliau pun mengatakan, ‘Wahai Ibu si Anu! Sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek tua.’ Nenek tua itu pun pergi sambil menangis. Beliau pun mengatakan, ‘Kabarkanlah kepadanya bahwasanya wanita tersebut tidak akan masuk surga dalam keadaan seperti nenek tua. Sesungguhnya Allah ta’ala mengatakan: (35) Sesungguhnya kami menciptakan mereka (Bidadari-bidadari) dengan langsung. (36) Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. (37) Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS Al-Waqi’ah)
Jika kita perhatikan hadits–hadits di atas, maka kita akan mendapatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bercanda pada beberapa keadaan tertentu, tetapi canda beliau tidak mengandung kedustaan dan selalu benar.

Follow Us